Setiap 30 September, bangsa Indonesia mengenang peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan tujuh perwira Angkatan Darat yang dikenal sebagai Pahlawan Revolusi. Di balik tragedi itu, terdapat kisah pengabdian lain dari Wagino Dachrin Mochtar atau W.D. Mochtar, yang memulai karier sebagai tentara dan kemudian menjadi aktor legendaris Indonesia.
Lahir di Pontianak pada 9 Mei 1928, W.D. Mochtar bergabung dengan Keigun Heiho pada masa pendudukan Jepang, lalu masuk TRI di Karawang pada 1946 dan terlibat dalam gerilya di Jawa Barat. Setelah meninggalkan dunia militer, ia mendedikasikan diri pada perfilman nasional, memulai debut lewat film Tirtonadi (1950) dan menjadi wajah tetap di studio Tan & Wong Bros.
Namanya melambung melalui film Matjan Kemajoran (1965) dan berbagai judul ikonik seperti Sanrego, Kereta Api Terakhir, Gundala Putra Petir, Pengabdi Setan, Roro Mendut, hingga Satria Bergitar. Ia meraih penghargaan Aktor Terbaik PWI-Jaya 1971 berkat perannya di Sanrego. Bersama istrinya, Sofia W.D., ia juga aktif di Libra Musical Show dan mendirikan PT Libra Film.
W.D. Mochtar meninggal di Tanjung Karang, Lampung, pada 13 Desember 1997 akibat serangan jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa pengabdian bagi bangsa dapat diwujudkan melalui militer maupun seni, sekaligus menjadi refleksi dalam mengenang peristiwa 30 September 1965.