Andreanus Gunawan, seniman kelahiran Surabaya 1953, membuka kembali arsip karya poster bioskop manualnya yang menjadi saksi era sebelum teknologi digital mendominasi industri visual. Perjalanannya dimulai pada 1972 saat masih SMA dengan membuat slide kaca untuk bioskop kecil, lalu berkembang menjadi pembuatan poster film raksasa berukuran hingga 12 x 6 meter yang dilukis tangan di atas kain. Selama puluhan tahun, ia memproduksi ratusan poster untuk berbagai bioskop di Surabaya dan kota lain, dengan tim pelukis yang membantunya.
Memasuki awal 2000-an, industri poster manual meredup akibat percetakan modern yang lebih cepat dan praktis, memaksa usaha reklame Andreanus ditutup. Meski demikian, ia tetap berkarya dengan beralih ke seni lukis realis-naturalis dan aktif memperlihatkan arsip lamanya melalui media sosial, galeri, serta kampus. Respons positif datang terutama dari generasi muda yang tidak pernah mengalami era poster lukis tangan.
Andreanus juga menyoroti tantangan pasar seni rupa di Surabaya, di mana masyarakat kelas atas dinilai belum memiliki tradisi mengoleksi lukisan seperti di Jakarta. Menurutnya, lukisan tidak harus dipahami secara teoritis, cukup dinikmati dan dikoleksi sebagai bagian dari kehidupan. Pandangan ini mencerminkan cara sederhana ia memaknai seni.
Kisah Andreanus menjadi potret perubahan besar dunia visual dari era manual ke digital, sekaligus pengingat bahwa setiap zaman melahirkan karya dengan caranya sendiri. Arsip-arsip yang disimpannya menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah desain dan industri visual Indonesia.