Pemerintah Nepal mendesak Meta dan TikTok untuk segera menghapus konten hoaks, gambar hasil AI, dan kode QR donasi palsu yang banyak beredar usai banjir bandang melanda negara tersebut.
Koordinator Satgas Media Sosial Nepal, Bijay Kumar Roy, meminta kedua platform memproaktifkan algoritma untuk memblokir konten kekerasan dan misinformasi secara otomatis saat diunggah.
Lamanya waktu respons platform, yang mencapai 24-48 jam, memicu kepanikan dan trauma masyarakat sebelum konten bermasalah dihapus. Pemerintah menuntut percepatan tindakan dan penyamaran (blur) pada foto maupun video korban bencana.
Nepal juga telah membentuk tim lintas lembaga untuk memantau konten berbahaya selama krisis dan menindak pembuat hoaks secara hukum, serta mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.