Kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, semakin pekat pada Minggu (4/10) akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga mengurangi jarak pandang dan menimbulkan bau serta rasa perih di mata. BMKG mencatat kualitas udara di Palembang berada pada level berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai puncaknya sebesar 903,6 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB, tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini.
Warga mengeluhkan kondisi asap yang sangat tebal, terutama di Jalan Soekarno Hatta, dan diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Seorang pengendara, Ilham, menyatakan asap terlihat tebal dan membuat mata perih, sehingga masker menjadi perlengkapan wajib.
Kabut asap yang telah menyelimuti Sumatera Selatan selama hampir dua bulan terakhir dilaporkan menelan korban jiwa. Ardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online warga Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas; keluarganya menduga kondisi tersebut terkait paparan asap Karhutla, terlebih ia memiliki riwayat asma dan sering batuk serta sesak sejak kabut asap melanda.
Meskipun sempat menurun, level PM2.5 kembali naik ke kategori berbahaya pada pukul 16.00 WIB di angka 495,6 µg/m³. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan yang lebih luas bagi warga Palembang dan sekitarnya.