Lapisan es Greenland mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, memanas empat kali lebih cepat dari rata-rata global, dan diperkirakan menyumbang kenaikan permukaan laut global hingga 13 cm pada 2100. Dampaknya mengancam kota-kota pesisir di seluruh dunia, khususnya di Asia seperti Jakarta, Bangkok, dan Manila, yang berisiko tinggi mengalami banjir dan kerusakan infrastruktur.
Selain dampak lingkungan, Arktik yang mencair kini menjadi arena persaingan geopolitik global. Negara-negara besar seperti AS, Rusia, dan China berlomba memperebutkan akses ke mineral kritis, jalur transportasi baru, dan kepentingan militer. Ambisi Presiden AS Donald Trump untuk menguasai Greenland memicu ketegangan di wilayah otonom tersebut.
Perubahan iklim juga mengancam keberlangsungan komunitas tradisional Inuit di Greenland. Nelayan dan pemburu lokal menghadapi pola cuaca yang tak menentu, berkurangnya es laut, dan pergeseran populasi ikan, yang memaksa banyak penduduk muda meninggalkan desa terpencil menuju kota besar.
Tradisi berburu, transportasi kereta luncur anjing, dan kerajinan tangan khas Greenland mulai punah seiring pemanasan global yang mengubah lanskap Arktik. Para ahli memperingatkan bahwa perubahan drastis di Greenland tidak hanya berdampak lokal, tetapi akan memengaruhi pola cuaca, ekosistem, dan garis pantai di seluruh Bumi.