Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, melonjak drastis hingga 542,11 persen pada musim kemarau 2026. Hingga 20 September 2026, terdeteksi 122 titik panas, terdiri dari 118 titik kategori Medium dan 4 titik High, dibandingkan hanya 19 titik pada 2024 dan nol titik pada 2025.
Kepala CDK Wilayah Pacitan, Wardoyo, menegaskan bahwa penyebab utama bukan anomali cuaca ekstrem, melainkan human error atau kelalaian manusia, terutama karena keinginan pemilik lahan. Kebakaran didominasi berasal dari lahan milik masyarakat sendiri.
Dua kecamatan, Pacitan dan Arjosari, masuk zona merah paling rawan. Penanganan darurat terkendala topografi perbukitan dan lokasi yang jauh dari akses jalan serta minim sumber air, sehingga CDK bersinergi dengan Damkar, BPBD, TNI, Polisi, dan warga setempat.
Selain pemadaman, CDK gencar melakukan edukasi preventif ke desa-desa pinggiran hutan, seperti larangan membakar serasah tanpa pengawasan dan membuang puntung rokok sembarangan, serta membentuk grup komunikasi antarwarga untuk mempercepat pelaporan titik api.