Wetonan, tradisi penanggalan Jawa yang berlangsung selama 35 hari, berfungsi sebagai waktu istirahat moral dan spiritual. Tradisionalnya, ritual ini diisi dengan puasa dan 'melek-melekan' untuk merenungkan diri serta menjauhi ambisi dan nafsu duniawi.
Di era modern, praktik wetonan dapat diadaptasi sebagai bentuk detoksifikasi digital atau puasa digital. Konsep 'melek-melekan' dimodifikasi menjadi momen untuk mengevaluasi konsumsi digital selama 35 hari terakhir dan menahan diri dari pemicu dopamin instan akibat teknologi.
Tradisi ini mengajarkan manusia untuk memperlambat laju kehidupan di tengah modernisasi dan sifat narsistik yang sering diperparah oleh media digital. Wetonan menghadirkan pertanyaan reflektif mengenai apakah penggunaan teknologi kita sudah bijak atau justru berlebihan.
Pada akhirnya, wetonan menyadarkan kita bahwa hidup tetap tenang dan berjalan tanpa kecanduan digital. Hal ini menjadi pengingat untuk lebih cermat memilah informasi yang diterima dan menggunakan teknologi secara lebih arif.