Pakar komoditas dan pendiri Traderindo, Wahyu Laksono, menilai keputusan Pertamina menahan harga Pertamax di Rp15.950 per liter pada Oktober 2026 sebagai langkah preventif untuk mencegah lonjakan migrasi konsumen ke BBM bersubsidi Pertalite. Menurutnya, pelebaran disparitas harga antara Pertalite dan Pertamax yang terlalu besar berisiko memicu peralihan konsumen secara masif. Saat ini selisih harga keduanya berada di Rp5.950 per liter. Wahyu menegaskan batas atas kenaikan Pertamax tidak boleh menembus Rp16.500 hingga Rp17.000 per liter, karena akan memperlebar disparitas hingga Rp7.000 per liter dan menimbulkan risiko besar. Keputusan Pertamina ini dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas konsumsi BBM bersubsidi di tengah tekanan harga minyak.