Rupiah berpotensi tertekan di pasar spot akibat kenaikan harga minyak Brent yang menembus level US$90,49 per barel. Lonjakan harga komoditas energi ini dipicu oleh kembali memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Konflik AS-Iran diperkirakan berlangsung hingga berbulan-bulan, ditandai dengan serangan Iran ke pangkalan udara AS di Yordania yang berhasil dicegat, serta niat Presiden AS Donald Trump untuk melumpuhkan perekonomian Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.
Kekhawatiran tersebut kembali menguat setelah adanya serangan balasan antara pasukan AS dan Iran di kawasan Selat Hormuz, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Hal ini menyebabkan premi risiko minyak global kembali meningkat.
Di tengah situasi tersebut, pergerakan mata uang Asia menunjukkan respons yang beragam. Sejumlah mata uang seperti won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan China menguat secara terbatas, sementara ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong tercatat melemah.