Peneliti BRIN, Iwan Saskiawan, mengungkapkan bahwa dari sekitar 10.000 spesies jamur di dunia, hanya kurang dari 10 persen yang dapat dikonsumsi. Namun, jamur pangan terbukti memiliki nilai gizi tinggi dengan kandungan protein 19-35 persen, melampaui beras dan gandum, serta kaya asam amino esensial, vitamin, mineral, dan serat dengan kalori rendah.
Jamur tiram (Pleurotus sp.) menjadi contoh pangan fungsional unggulan karena mengandung pleuran, senyawa antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan. Jamur ini juga kaya protein, karbohidrat, vitamin B dan C, serta berbagai mineral seperti kalsium, besi, dan seng.
Indonesia memiliki keanekaragaman jamur liar yang masif seperti jamur bulan, grigit, dan pelawan yang selama ini dimanfaatkan masyarakat lokal. Potensi ini membuka peluang besar untuk bioprospeksi, yaitu pengembangan sumber daya hayati menjadi produk bernilai tambah seperti pangan fungsional hingga bahan baku farmasi.
Iwan menekankan perlunya penguasaan 'mushroom science' dan kolaborasi antara peneliti, industri budidaya, dan farmasi agar potensi jamur Indonesia dapat dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan.