Senin, 12 Oktober 2026, laporan timbul mengenai serangan keberasian terhadap bus Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di Rest Area KM 360, Batang, Jawa Tengah, terjadi malam Minggu, 10 Oktober 2026. Peristiwa ini berlaku setelah tim U-18 melakukan laga tandang melawan Garuda United di Stadion Surakarta, menyulut kaca bus patah, hilangnya beberapa koper dan persediaan pemain, serta satu ofisial meninjau cedera ringan di pipi dan kepala. Dubaan awal mengarah pada keterlibatan suporter lawan, menyaminkan arus balik kepulangan fans Persija setelah pertandingan di Stadion Sultan Agung di Bantul.
Kapten Persija Jakarta, Rizky Ridho, melalui akun Instagram pribadinya mengecam keras kejadian tersebut dan menyindir tuduhan kekerasan terhadap pemain muda. Bek Timnas Indonesia berusia 24 tahun menekankan bahwa aksi tersebut tidak dapat ditoleransi dalam dunia olahraga, menyuar kalimat kunci "Tidak ada tempat untuk kekerasan dalam sepak bola" serta menyoroti bahwa menyasar generasi pemudi yang berjuang mengejar mimpinya adalah hal yang sangat tidak baik. Gagasan itu sepaham untuk mencegah kekerasan yang terus merajalela di lingkungan sepak bola Indonesia.
Kepala Persib Bandung serta pihak kepolisian dan otoritas berwenang terus melakukan verifikasi dan penyelidikan guna memastikan kronologi lengkap serta menindak para pelaku yang terlibat. Insiden ini menambah ketegangan terkait keamanan dalam perjalanan tim di liga Super League Indonesia, menyoroti perlu adanya pengaman yang lebih ketat dan Kultur kejuruan yang lebih sehat di seluruh tingkat persaingan.