Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 16.49

Washington (ANTARA) - Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang berakhir pada Senin (17/8) menyebutkan bahwa tingkat persetujuan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turun menjadi 33 persen, level terendah selama masa kepresidenannya, di tengah kekhawatiran publik terkait perang AS melawan Iran.Hanya 33 persen responden dalam survei selama empat hari tersebut yang menyatakan bahwa mereka menyetujui kinerja Trump di Gedung Putih, sementara 64 persen tidak menyetujuinya, seperti ditunjukkan jajak pendapat itu.Jajak pendapat tersebut memaparkan bahwa tingkat persetujuan terhadap Trump, yang turun dari 35 persen dalam jajak pendapat yang dilakukan pada awal bulan ini dan menjadi yang terendah selama masa jabatan keduanya, kini menyamai tingkat terendah pada masa jabatan pertamanya, yang tercatat pada Desember 2017.Jajak pendapat terbaru itu dirilis ketika periode negosiasi selama 60 hari berdasarkan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada Senin, tanpa adanya kemajuan menuju perjanjian perdamaian yang lebih luas antara kedua pihak.Trump berupaya meredakan kekhawatiran publik mengenai tingginya harga bahan bakar dalam pernyataannya baru-baru ini.Dalam sebuah rapat umum politik di Garden City, New York, pada Jumat (14/8), Trump menuturkan bahwa membayar "sedikit lebih mahal untuk bensin Anda" sepadan dengan biaya untuk memastikan "negara yang sangat jahat" tidak dapat memiliki senjata nuklir.Sementara itu, jajak pendapat Financial Times yang dirilis pada Minggu (16/8) menunjukkan bahwa 53 persen pemilih AS mengatakan kondisi mereka menjadi lebih buruk di bawah kepemimpinan Trump, di tengah meningkatnya ketidakpuasan atas cara dia menangani perekonomian dan biaya hidup."Inflasi melampaui kenaikan upah dan masyarakat mengalami kesulitan membayar tagihan mereka. Banyak yang merasa mereka semakin tertinggal dan tidak mampu mengikuti kenaikan biaya makanan, bahan bakar dan layanan kesehatan," kata Senior Fellow di Brookings Institution Darrell West kepada Xinhua.Pewarta: XinhuaEditor: Imam Budilaksono Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.