Madani Internasional Film Festival 2026 mengangkat pemikiran Islam modernis ala sastrawan Asrul Sani sebagai pijakan, dengan menghadirkan film dan gagasan yang melihat Islam melalui pengalaman keseharian masyarakat, bukan sekadar doktrin atau ajaran. Kritikus film Hikmat Darmawan menyatakan festival ini telah membangun ruang aman selama sembilan tahun untuk mempertemukan gagasan dan karya, kini dirumuskan melalui empat pilar dengan dua payung utama penyelenggaraan festival nasional.
Pilar Living Islam menjadi pijakan untuk melihat bagaimana nilai keislaman hadir dalam kehidupan masyarakat secara beragam dan lokal, membuka ruang bagi film dari berbagai negara untuk memperlihatkan pengalaman Islam yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut juga membuat festival tertarik menemukan komunitas kecil yang membawa gagasan besar melalui gerakan dan karya seni, salah satunya Isah Sagu dari Papua yang mengangkat isu kolonisasi pangan dan posisi sagu sebagai pangan masyarakat adat.
Menurut Hikmat, karya komunitas seperti Isah Sagu menunjukkan seni dapat menjadi medium untuk membicarakan persoalan pangan dan identitas. Festival juga berupaya mempertemukan berbagai pengalaman warga melalui film, seni, serta gagasan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga keberlangsungan ruang aman kebudayaan, mengingat ekosistem seni Jakarta terus menghadapi tantangan sumber daya. Ia berharap Madani tidak mengalami nasib seperti Jakarta Biennale yang memperoleh anggaran pemerintah sebesar nol koma satu persen, dan menilai dukungan bersama diperlukan karena ruang seni merupakan bagian ekosistem yang dapat memperkuat kekuatan warga secara berkelanjutan.