Kasus perundungan (bullying) di Yogyakarta diketahui berulang secara lintas generasi, menciptakan siklus kekerasan yang sulit diputus. Untuk menghadapi hal tersebut, inisiatif "Efek Jera" diperkenalkan sebagai solusi sistemik yang berfokus pada akar masalah budaya sekolah.
Pendekatan utama program ini memanfaatkan kearifan lokal sebagai landasan pembentukan karakter dan empati siswa. Nilai-nilai luhur budaya daerah dipakai untuk menginternalisasi rasa hormat dan tanggung jawab sosial di antara peserta didik.
Selain pendekatan budaya, sanksi edukatif diterapkan menggantikan hukuman konvensional yang bersifat represif. Sanksi ini dirancang agar pelaku memahami dampak perbuatannya dan belajar memperbaiki perilaku melalui proses refleksi serta restorative justice.
Upaya kolaboratif ini melibatkan sekolah, orang tua, dan komunitas untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Target utamanya adalah memutus rantai reproduksi kekerasan serta menumbuhkan generasi yang memiliki kecerdasan emosional tinggi.