Rupiah ditutup melemah terbatas 0,09% ke level Rp17.898/US$ pada perdagangan hari ini, seiring dengan kenaikan harga minyak Brent ke US$104 per barel. Pelemahan ini juga dialami oleh sebagian besar mata uang Asia lainnya, seperti dolar Taiwan, peso Filipina, won Korea Selatan, dolar Singapura, ringgit Malaysia, yen Jepang, dan rupee India.
Kenaikan harga minyak Brent dipicu oleh konflik dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, yang menyebabkan lonjakan tarif angkutan minyak dan memperketat pasokan kapal tanker global. Lebih dari 40% armada very large crude carriers (VLCC) dunia kini terkonsentrasi di Teluk Persia untuk memanfaatkan tarif pengangkutan yang tinggi.
Biaya pengiriman minyak dari Teluk Persia ke Asia Timur melonjak lebih dari enam kali lipat dibandingkan sebelum konflik, mencapai hampir US$1,4 juta per hari untuk rute VLCC, naik sekitar 540% sejak sebelum perang, sementara harga Brent hanya naik sekitar 40%. Praktik ship-to-ship transfer di luar Selat Hormuz yang tidak efisien semakin memperburuk situasi dengan mengurangi ketersediaan VLCC untuk rute lain.
Di sisi lain, keyakinan konsumen Indonesia pada September sedikit memudar, menambah tekanan terhadap rupiah. Sementara itu, IHSG juga berbalik arah menjadi merah akibat beban sentimen pasar.