Pelaku usaha Mongolia ingin memperluas kerja sama dengan Indonesia di bidang farmasi, manufaktur kesehatan, barang konsumsi, pangan, serta sektor energi terbarukan, teknologi hijau, dan efisiensi energi. Hal ini disampaikan Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav dalam forum bisnis bertajuk "70 years of Partnership: A New Era of Cooperation" yang dihadiri sekitar 35 pelaku usaha dari kedua negara.
Mongolia dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 21 Desember 1956 dan akan memperingati 70 tahun pada 2026. Baatarjav menyebut total perdagangan bilateral 2025 mencapai 47,4 juta dolar AS, dengan ekspor Mongolia hanya 168.000 dolar AS dan impor dari Indonesia 47,25 juta dolar AS, sehingga masih jauh di bawah potensi maksimal. Ia menyoroti peluang kerja sama di bidang pangan, pertanian, produk peternakan (termasuk rantai pasok daging halal), pertambangan, teknologi, jasa, serta pariwisata.
Atase Perdagangan KBRI Beijing Junita Syartika menambahkan Indonesia memiliki komoditas unggulan seperti buah tropis, produk olahan buah, dan rempah-rempah berkualitas tinggi. Berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan RI, total perdagangan RI-Mongolia 2025 sebesar 56,6 juta dolar AS dengan ekspor Indonesia 49,5 juta dolar AS dan impor 6,5 juta dolar AS. Ia mengajak pengusaha Mongolia mengikuti Trade Expo Indonesia 2026 pada 14-18 Oktober 2026.
Forum bisnis ini dihadiri pelaku usaha Indonesia seperti INACHAM, PT Rempah Galih, PT Bali Hai Brewing, PT Bospress Global Resources, dan Filtech Energy, serta pelaku usaha Mongolia dari sektor konsultan, travel, logistik, keuangan, dan farmasi. Kedua pihak menekankan perlunya upaya lebih aktif dari kedutaan, kamar dagang, dan organisasi bisnis untuk meningkatkan akses informasi dan pertukaran informasi pasar.