Sefri Afikar (54), warga Desa Sepahat, Bengkalis, Riau, mengabdikan dirinya merawat ribuan bibit mangrove setiap hari. Ia menjalankan aktivitas ini meskipun kaki kirinya telah diamputasi akibat kecelakaan tabrak lari sepuluh tahun lalu.
Setelah kecelakaan tersebut, Asep—sapaan akrabnya—mengalami kesulitan ekonomi dan mencari pekerjaan karena keterbatasan fisik. Ia akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaan lain dan fokus menanam mangrove, sebuah pekerjaan berat yang dekat dengan lumpur, panas, dan nyamuk tanpa jaminan penghasilan besar.
Bagi Asep, menanam mangrove bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sebuah proses penebusan masa lalu. Ia mengakui bahwa di masa lalu, ia termasuk dalam kelompok orang yang ikut merusak alam dan ekosistem mangrove di pesisir tersebut.