Indonesia sedang mengembangkan Manta Impact Bond, skema pembiayaan berbasis hasil pertama di dunia yang khusus mendukung konservasi pari manta. Inisiatif ini digagas oleh Konservasi Indonesia dan Conservation International, dengan Raja Ampat di Papua Barat Daya sebagai lokasi prioritas karena merupakan habitat bagi dua spesies pari manta, yakni manta karang dan manta oseanik.
Gubernur Papua Barat Daya menekankan bahwa pari manta memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, serta potensi ekonomi pariwisata yang besar. Seekor pari manta diperkirakan memberikan nilai ekonomi hingga US$1 juta sepanjang hidupnya. Meski telah dilindungi penuh sejak 2014, konservasi tetap membutuhkan dukungan pembiayaan berkelanjutan.
Setidaknya enam ancaman utama bagi pari manta di Raja Ampat mencakup penangkapan ilegal, wisata tidak bertanggung jawab, alat tangkap tidak ramah lingkungan, pencemaran, sedimentasi, dan risiko tertabrak kapal. Program ini masih dalam tahap perancangan selama dua tahun dengan dukungan AFD, dan modal awal akan disalurkan melalui Manta Resilience Fund.
Berbeda dari pembiayaan konservasi konvensional, skema ini memberikan pengembalian modal plus imbal hasil kepada penyandang dana jika target konservasi tercapai dan diverifikasi secara independen, menggunakan pemantauan ilmiah seperti photo-ID. Skema ditargetkan mulai dilaksanakan pada awal 2029 dengan strategi konservasi hingga 20 tahun ke depan.