Prof. Djoko Marihandono dari Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels menghabiskan biaya 30 ribu Ringgit. Tahap pertama, dari Cisarua hingga Cirebon, dibayar secara tunai dengan tambahan beras dan garam, menggunakan tenaga kerja dari luar Jawa Barat. Tahap kedua, dari Cirebon hingga Panarukan, dilanjutkan dengan sistem gotong royong karena keterbatasan dana pemerintah, yang berujung pada penderitaan pekerja di bawah arahan bupati.
Djoko menjelaskan alasan ekonomi pembangunan jalan tersebut, yakni untuk memenuhi kebutuhan kayu jati bagi pembuatan kapal pemerintah yang telah disita Inggris dan pembangunan rumah. Sejarah ini diangkat kembali melalui acara Kick Off Anyer-Panarukan 3R yang digelar Pemkab Serang dan Situbondo. Acara ini bertujuan untuk memahami jalan bersejarah dari tiga perspektif: konektivitas, pengembangan destinasi wisata, serta akar budaya dan identitas masyarakat.