Bara di Lahan Gambut: Mengurai “Ekonomi Api” dan Mitos Penyebab Tunggal Karhutla

Sabtu, 29 Agustus 2026 pukul 11.30
Bara di Lahan Gambut: Mengurai “Ekonomi Api” dan Mitos Penyebab Tunggal KarhutlaIlustrasi (Auto-Generated)

Sumber Berita Asli

Republika Online RSS Feed

Baca di Website Asli ↗

 
 Oleh: Leonard Tiopan Panjaitan (Konsultan ESG & Produktivitas di TSC dan Co-founder IS2P)REPUBLIKA.CO.ID, Langit Agustus kembali menguning di atas kanopi hutan Kalimantan dan Sumatera. Menjelang akhir Agustus 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat angka yang mengkhawatirkan: 1.842 titik panas membara di lima provinsi Kalimantan. Kalimantan Tengah memimpin daftar kelam tersebut dengan 976 titik api, disusul Kalimantan Selatan dengan 696 titik. Di seberang laut, Sumatera bernasib serupa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 1.104 titik panas, yang separuhnya terpusat di Sumatera Selatan. Bencana ekologis ini bukan lagi kejutan dan telah menjadi rutinitas mematikan yang menagih kerugian kesehatan, ekonomi, dan diplomasi regional selama setidaknya tiga dekade terakhir. Kabut asap bulan ini kembali dilaporkan melintasi batas negara, mencekik wilayah Sarawak, Malaysia, hingga...

Berita Terkait Lainnya