Cegah karhutla meluas, Pemkab Berau lakukan OMC hingga Jumat

Selasa, 25 Agustus 2026 pukul 14.10
Cegah karhutla meluas, Pemkab Berau lakukan OMC hingga Jumat

Sumber Berita Asli

Berita Terkini - ANTARA News

Baca di Website Asli ↗
Kami memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OMC, termasuk memperkuat koordinasi dengan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pihak terkaitBerau, Kaltim (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), menggandeng pihak terkait dalam melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sebagai langkah menurunkan hujan guna mencegah, sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) agar tidak meluas.OMC menggunakan pesawat Smart Cakrawala Aviation jenis Cessna 208 Caravan dengan registrasi PK-SNP. Penerbangan perdana telah dilakukan Senin (24/8) malam, dilanjutkan hari ini sampai Jumat atau tiga hari mendatang."Kami memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OMC, termasuk memperkuat koordinasi dengan tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pihak terkait," kata Bupati Berau Sri Juniarsih Mas di Tanjung Redeb, Selasa.Pelaksanaan OMC dimulai dari Bandara Kalimarau di Teluk Bayur, awal mengudara pada Senin pukul 20.46 WITA dengan durasi penerbangan sekitar 99 menit pada rute lokal area Berau untuk menabur garam dan kembali mendarat pukul 22.25 WITA.Baca juga: BMKG: Operasi modifikasi cuaca lanjut ke wilayah BerauBahan semai yang digunakan berupa garam (NaCl) murni seberat satu ton, dikemas dalam 50 karung dengan berat masing-masing 20 kilogram. Sementara tim terdiri pilot dan co-pilot, dua flight scientist, serta dua orang penabur garam."Operasi ini merupakan salah satu upaya pencegahan karhutla, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca panas dan kekeringan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Sementara upaya mitigasi lain yang di darat juga tetap berlangsung, baik edukasi ke masyarakat, pencegahan, hingga penanganan," katanya.Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau Masyhadi Muhdi mengatakan OMC dijadwalkan selama lima hari mulai Senin 24 Agustus hingga Jumat 28 Agustus 2026.Rata-rata penerbangan untuk penaburan garam dua kali sehari atau 10 kali selama lima hari sesuai dengan agenda. Sedangkan untuk waktu semai garam tergantung kondisi cuaca, sehingga bisa dilakukan pagi, sore atau malam.Baca juga: BNPB: Penanganan terpadu atas karhutla tiga kabupaten di Kaltim"Penaburan garam harus memperhitungkan kondisi awan dan kecepatan angin secara cermat, karena mulai proses semai hingga turun hujan membutuhkan waktu antara 2 menit hingga 2 jam, tergantung pada kondisi tertentu," katanya.Jika garam disemai ke awan jenis Cumulonimbus atau awan yang sudah matang dan jenuh uap air, maka bisa menghasilkan reaksi lebih cepat dan menghasilkan hujan.Tergantung pula pada kelembapan udara yakni memperhitungkan kandungan uap air di sekitar lokasi penaburan yang mempengaruhi kecepatan garam menyerap air (higroskopis).Hal lain yang diperhitungkan, kata dia, arah dan kecepatan angin yang akan menentukan seberapa cepat awan yang telah disemai bergeser dan menjatuhkan butiran air ke wilayah sasaran.OMC digelar karena di Berau hingga 24 Agustus 2026 sudah terjadi 169 karhutla dengan total lahan baik hutan maupun perkebunan yang terbakar sekira 386 hektare.Baca juga: Titik panas keenam tertinggi, Menhut: Jambi perlu OMC atasi kathutlaPewarta: M.GhofarEditor: Risbiani Fardaniah Copyright © ANTARA 2026 Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.