Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, mempertahankan tata ruang tradisional, arsitektur khas, hutan bambu seluas 45 hektare, dan kehidupan adat yang diwariskan lebih dari 700 tahun. Desa ini masih menjadi ruang hidup masyarakat, bukan sekadar kompleks wisata buatan. Kehidupan warga berlandaskan filosofi Tri Hita Karana dan pembagian kawasan Tri Mandala yang mencerminkan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
Desa Penglipuran berhasil masuk daftar Best Tourism Villages 2023 yang diumumkan UNWTO dalam Sidang Umum di Samarkand, Uzbekistan, pada Oktober 2023. Penglipuran menjadi satu dari 54 desa terpilih dari hampir 260 aplikasi berbagai negara. Penilaian meliputi pelestarian budaya, keberlanjutan ekonomi dan lingkungan, tata kelola, infrastruktur, serta konektivitas.
Masyarakat setempat terlibat langsung dalam aktivitas pariwisata melalui homestay, kuliner, kerajinan, pemandu lokal, dan wisata berbasis budaya. Pengunjung dapat menyusuri kawasan permukiman, mengamati arsitektur tradisional, menjelajahi hutan bambu, hingga mencoba kuliner lokal seperti loloh cem-cem. Waktu pagi menjadi pilihan terbaik untuk menikmati suasana yang masih tenang.
Popularitas Penglipuran menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan agar sebuah destinasi dapat berkembang. Di tengah perubahan wajah Bali akibat pertumbuhan pariwisata, desa ini menjadi contoh bagaimana komunitas dapat membuka diri terhadap wisatawan tanpa melepaskan pola ruang, aturan adat, lingkungan, dan identitas leluhur yang membuatnya memiliki karakter kuat dan berbeda.